Selasa, 19 April 2011

Dibalik N.A.N.A.R *7







Sudah tau hidup ini susah
Masih coba kau cari kemudahan
Sudah tau hidup harus berjuang
Masih judi kau hidup dan melacur
Kadang hati masih terus mencari sebuah definisi
Kadang mati masih tak temukan sebuah jawaban


Diorama 7 : Hiduplah Kehidupan

Rohman mendongakkan kepalanya seraya menatap jejeran pohon rindang tiap kali dia mengendarai sepeda motor di pagi hari dalam perjalanan menuju kantor. Pohon yang rindang, bergoyang tertiup angin dan sesekali hanya diam tidak ada pergerakan karena memang tidak ada yang membuatnya bergerak atau memang karena pohon tersebut tidak ingin bergerak. Pohon yang berdiri kokoh namun akhir-akhir ini terus ditebang dengan pledoi sepele mahluk zaman yang tidak ingin berpikir panjang, "Kalo hujan angin, banyak pohon tumbang Mas! Berbahaya bagi masyarakat yang sedang melintas." Sekali lagi mahluk zaman menyalahkan alam tanpa mau memandang apa kekurangan yang ada di dalam dirinya.

Tak berapa lama kemudian, roda sepeda motor memasuki gerbang besar dan menjulang tinggi bercat hitam dengan lima security rapi berdiri dalam formasi menyambut tiap tamu yang masuk. Kendaraan pegawai parkir di dalam sedangkan kendaraan tamu, parkir tepat di pintu masuk. Rohman mendapat senyum tulus para security tiap pagi dan malam hari ketika ia pulang. Senyum yang Rohman kategorikan "senyum tulus" itu tidak sembarang ia berikan. Senyum di pagi hari inilah yang membuat Rohman merasa hidup dan harus berjuang untuk kehidupan. Bukan untuk kehidupan dirinya, bukan untuk kehidupan bos-bos yang kadang ia memilah untuk sekedar disebut "Bos" atau "Pemimpin Sejati", tapi sudah mantap Rohman berkata "Perjuanganku ini, untuk senyum-senyum getir yang tertuang dengan ikhlas tanpa pamrih." Senyum rakyat jelata.

Banyak orang kita jumpai dalam menjalankan hidup, namun sedikit dari banyaknya orang tersebut yang dapat mendefinisikan dengan jelas apa itu kehidupan. Tahun 2008 awal, Rohman berkunjung ke sebuah rumah dosen yang ditunjuk untuk membimbingnya menyusun skripsi. Dosen yang awalnya dia benci karena telah memberinya nilai "D" pada Mata Kuliah "Etika Profesi" dan membuatnya harus mengulang di semester selanjutnya. Dosen yang ketika ia bertanya :
"Bapak Dosen yang terhormat, mengapa Bapak memberikan saya nilai "D" untuk mata kuliah yang Bapak ajarkan? Bapak tahu semester depan saya akan mengerjakan skripsi sehingga saya harus fokus dan tidak perlu memikirkan lagi mata kuliah yang harus diulang karena nilai yang...kurang menarik untuk dilihat pada lembar transkrip nilai saya?" kemudian dosen tersebut menjawab,
"Anakku Rohman mahasiswa kebanggaan Fakultas Hukum, aku tidak akan membodohimu dengan memberikan nilai "A" atau "A++" sekalipun, karena sesungguhnya kamu telah menyepelekan sebuah Mata Kuliah kunci."
"Mata kuliah kunci? Saya pikir, Mata Kuliah Teori Konstitusi, Praktik Pidana, Praktik Perdata itu baru mata kuliah kunci, sedangkan ini?" Rohman mengernyitkan dahi.
"InI Mata Kuliah Etika Profesi, kamu hanya hadir 60% dari 89% kewajiban menghadiri kelas saya kemarin?"
"Iya Pak, tapi saya sudah meminta izin untuk meninggalkan kelas beberapa kali karena untuk kepentingan yang lebih besar. Saya diutus Fakultas untuk mengikuti acara tingkat nasional dan saya merasa itu lebih penting untuk nama baik fakultas dan universitas."
"Rohman dengarkan saya!" nada bicara mulai meninggi. "Kamu adalah generasi penegak hukum negeri besar ini ke depan. Mata kuliah Etika Profesi adalah awal kamu menghargai apa yang menjadi kehidupanmu kelak. Bukan sekedar menjaga martabat fakultas atau universitas yang tidak ada apa-apanya ini. Kamu yang akan membawa nama bangsa ini menjadi harum di mata dunia, Rohman! Membawa harum tanpa pretensi, tanpa ego dan kejumawaan yang bersifat duniawi. Tidak ada yang perlu dibanggakan selain sebuah kejujuran dan ketulusan hati, Rohman!" Dosen mendekat ke wajah Rohman. "Hargai profesimu Rohman!" Dosen meninggalkan Rohman yang lidahnya tiba-tiba menjadi kelu.

Beberapa hari sejak pertemuan dengan dosen tersebut, Rohman tidak mampu tidur nyenyak tiap malamnya. Rohman mendapat dua gelar kebanggaan dari Universitas dan Fakultas dalam tahun yang sama. Dua gelar yang diperebutkan oleh lebih dari 2000 mahasiswa tingkat fakultas dan lebih dari 12000 mahasiswa tingkat universitas. Dua gelar yang membuatnya tidak perlu mengeluarkan sepeserpun uang untuk membayar biaya semesteran kuliah selama dua tahun berturut-turut dan tidak perlu memenuhi jam mata kuliah karena fakultas telah mengirimnya ke berbagai event di berbagai kota mewakili fakultas dan universitas. Beberapa gelar lain yang membuatnya dikenal dan disegani oleh mahasiswa-mahasiswa dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) "Dewa", atau di atas 3,6 dengan batas nilai tertinggi 4 atau prestasi-prestasi yang membuatnya tidak pernah sepi karena mahasiswi-mahasiswi terus mengelilingi sekedar untuk mengajak ngobrol atau pura-pura berdiskusi tentang kondisi sosial masyarakat.

"Apa aku tidak menghargai apa yang telah aku usahakan selama ini?" dalam sebuah malam, Rohman menyendiri di atas loteng rumah kosan sambil terus mendalami apa yang telah dikatakan oleh seorang dosen yang kebetulan saat Mata Kuliah Etika Profesi tersebut adalah saat pertama Rohman diajar oleh dosen tersebut. Bahkan dosen tersebut memang baru saja mengajar lagi setelah menyelesaikan kuliah S3 dan mendapat Gelar Doktor.

Siapa dosen ini? Rohman terus mengutak-utik data, menelusuri tiap tulisan yang pernah dosen tersebut buat dan ditemukanlah fakta bahwa dosen tersebut telah menciptakan beberapa buku yang laris di pasaran bahkan melebihi larisnya tulisan para tokoh yang sering muncul di televisi. Dari penelusuran tersebut pula yang membuat Rohman tertarik untuk berdiskusi lebih jauh tidak hanya tentang profesi hukum tapi juga tentang kehidupan.

Suatu sore saat masih kuliah, Rohman melihat dosen yang sedang ia cari jati dirinya tersebut mengendarai sepeda motor tua kemudian Rohman mengikutinya dari belakang dengan sepeda motornya. lima menit, sepuluh menit, lima belas menit mengikuti, motor dosen memberikan sein ke-kiri masuk ke sebuah komplek yang dikenal eksklusif oleh masyarakat di kota tempat Rohman berkuliah.

Oh pantes, dosen tajir siapa peduli mahasiswanya? itu pendapat yang pertama kali keluar dari benak Rohman melihat apa yang baru saja terjadi. Rohman terus menguntit dari belakang dan semakin mengikuti semakin berubah-ubah perasaan Rohman. Seorang Doktor, buku ciptaan yang laris di pasaran, sepeda motor tua, komplek perumahan mewah, berhenti di depan rumah tua dengan ilalang tidak terurus.

Kali ini Rohman memandang dari kejauhan karena sepeda motor dosen sudah berhenti di  depan sebuah rumah dan seorang wanita muda membuka gerbang kemudian dosen tersebut masuk ke dalam rumah. Sebelum memasukkan motornya, nampak wanita muda tersebut mencium tangan Si dosen.

Itu rumah siapa ya? pintu depannya hanya pagar kecil  yang hanya muat dimasuki sepeda motor, banyak rumput liar di sekelilingnya, rumah tua dengan tembok bercat kusam. Rohman menutup kaca helm, melaju sepeda motor dengan perlahan, saat tepat berada di depan rumah kemudian mencuri pandang ke arah rumah dan tercengang menyaksikan apa yang ditangkap oleh kedua lensa matanya.

Dua bocah kecil sedang berebutan meminta digendong oleh sang ayah. Ibu muda tersenyum melihat tingkah putra putri kecilnya. Seorang ayah yang adalah dosen mata kuliah Etika Profesi, yang dengan perkataannya telah membuat Rohman tidak mampu tidur dengan nyenyak selama dua minggu. Terakhir, rumah yang renta dengan rumput ilalang tak terurus, cat tembok yang kusam dan sepeda motor tua yang terpakir melintang di halaman semen telah membuat Rohman terdiam sesaat walau roda sepeda motor masih terus berputar.

Itukah rumah seorang Doktor dengan prestasi karya-karya yang luar biasa? Bahkan itu lebih cocok kusebut sebagai gubuk. Rohman mem-bathin.

Pandangan Rohman kosong, searah kemudian bulir-bulir air mata membasahi pipi Rohman dan embunnya membuat pandangan Rohman kabur.  

Aku malu Tuhan...

***

Tuhan telah memperjodohkan Rohman dengan Pak Hamid, Sang Doktor sederhana dan santun. Ketika Rohman mengajukan judul skripsi kepada Kepala Jurusan Hukum Tata Negara, sesaat kemudian keluar surat yang mengamanatkan Rohman agar menghubungi Pak Hamid dan menanyakan perkenan beliau untuk menjadi pembimbing skripsi. Rohman dengan refleks melonjak girang dan membuat Ibu Herlina sebagai kepala jurusan menjadi bingung ada apa gerangan.

"Ada apa Rohman, semangat sekali kamu membaca surat itu?" Bu Herlina mengangkat gagang kacamat ke dahi.
"Tidak ada Bu, terima kasih dan saya permisi dulu." Rohman mencium tangan Bu Herlina kemudian meninggalkan ruangan.

Enam bulan berjalan dan Rohman tidak membuang-buang kesempatan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dengan Pak Hamid. Ilmu hukum, ilmu tata cara penulisan tugas akhir, ilmu menjadi peneliti, ilmu menangkap fenomena masyarakat dan yang paling utama, "Ilmu menjalani kehidupan". Dari enam bulan tersebut, Rohman menjadi lebih bijak, lebih sederhana menjalani hidup, melepas segala atribut jabatan di berbagai kegiatan kampus mulai dari ketua organisasi penelitian, utusan fakultas untuk Senat Mahasiswa, kepala bagian penelitian di organisasi masyarakat dan beberapa jabatan yang membuatnya sebagai mahasiswa sudah cukup nyaman dengan fasilitas yang disediakan. Rohman tidak lagi menghiraukan pendapat teman-teman yang masih asyik bermain-main dengan waktu. Pikiran Rohman hanya tertuju pada satu perkataan Pak Hamid, bahwa ia harus menjunjung tinggi profesi yang akan diembannya kelak dan menjaganya dari sebuah kesalahan paradigma tentang profesi hukum di negeri ini.

Rohman lulus dengan nilai skripsi "A". Pak Hamid adalah salah satu dosen penguji Rohman dan dua dosen senior lain. Tidak ada pembantahan sama sekali dari para dosen penguji terhadap skripsi Rohman, bahkan salah satu dosen yang seharusnya ikut menguji dan tidak bisa hadir saat Rohman pendadaran, hanya mengatakan "Tulisanmu tidak perlu lama untuk didiskusikan, tidak perlu lama untuk diberi apresiasi." Tidak hanya itu, hanya butuh kurang dari sepuluh menit bagi para dosen penguji pendadaran untuk memutuskan Rohman berhak mendapat nilai "A" tersebut. Pak Hamid tersenyum kemudian berbisik "Nanti aku numpang sepeda motormu tolong antarkan ke rumah ya Man, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan." Rohman tersenyum kecil kemudian membalas berbisik "Bukan masalah Pak, tapi saya ingin merayakan ini dulu bersama teman-teman di kantin." dan keduanya pun tertawa lebar.

Rohman pun berkesempatan berkunjung ke rumah Pak Hamid. Seorang wanita yang pernah dilihatnya beberapa bulan yang lalu saat Rohman membuntuti Pak Hamid dari kejauhan, juga ikut menyambut kehadiran Rohman dan Pak Hamid.

"Perkenalkan, ini istri saya...Mah, ini mahasiswa Bapak yang sering Bapak ceritakan."
 Rohman mencium tangan seorang ibu yang masih sangat muda sehingga Rohman sempat berpikir mungkin Pak Hamid telat nikah.

"Rohman, kita bicara di luar saja ya? Putra-putri saya sedang tidur siang dan rumah saya tidak cukup nyaman untuk ngobrol."
"Oh baik Pak." Rohman mengikuti Pak Hamid keluar rumah dan ternyata Pak Hamid mengajak Rohman ke sebuah bangunan kecil atau yang lebih tepatnya pos ronda yang terletak tepat di depan rumah.

"Rohman, selamat ya atas kelulusanmu." sambil menepuk bahu Rohman.
"Ah, bisa saja Bapak ini. Apa jadinya saya tanpa bimbingan Bapak selama enam bulan terakhir?"
"Saya tidak banyak membantu skripsimu, tapi kamu...yang menjalankan sendiri apa yang ada di pikiranmu kemudian terciptalah sebuah tulisan yang luar biasa. Minimal untuk mahasiswa strata S1 seperti kamu ini sudah sangat luar biasa."
"Bapak bisa aja buat saya Gede Rasa." Rohman tertawa.
"Man, aku minta maaf atas perkataanku tempo hari."
"Perkataan yang mana ya Pak?" Rohman bingung."
"Bukan maksudku membuat kamu sakit hati, tapi sekali lagi...aku melihat sebuah potensi besar yang ada di dalam dirimu."
"..." masih bingung.
"Aku dulu pernah seperti kamu, aktif di kampus. Diminta fakultas dan universitas untuk mewakili pada tiap event lomba atau sekedar seminar di kota lain. Awalnya saya bangga karena dikenal dan segala macam kemudahan yang saya terima, tapi saat saya lulus kuliah...Saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya melangkah sendiri untuk sebuah kehidupan yang lebih besar."
"Maksud Bapak?" tambah tidak mengerti.


Pak Hamid bercerita tentang perjuangannya selama ini untuk mencari sebuah makna hidup yang sesungguhnya. Pasca kuliah, dia menemukan pembelajaran yang sangat berarti sehingga membuatnya sesaat terhenti melangkah untuk menggapai cita-cita yang lebih tinggi.

Sederhana saja, Pak Hamid berasal dari sebuah desa terpencil yang letaknya di puncak gunung di selatan Jawa Timur. Desa yang sangat tertinggal dengan penduduknya bermatapencaharian sebagai pengumpul rumput untuk ternak milik majikan. Untuk mengantarkan rumput yang dikumpulkan, menuju rumah majikan-pun harus menempuh waktu dua jam karena harus menuruni gunung. Beruntung Pak Hamid sejak kecil dititipkan oleh orangtuanya kepada pamannya yang bekerja di kota. Pak Hamid dapat merasakan bangku sekolah SD, SMP, SMA yang lebih baik, kemudian berkesempatan untuk mencicipi bangku kuliah.

Selesai kuliah, Pak Hamid menerima tawaran melanjutkan S2 di sebuah universitas ternama di ibukota. Saat semua dirasa sudah dipersiapkan tiba-tiba Pak Hamid mendapat kabar dari pamannya yang mengatakan bahwa bapaknya sedang kritis. Saat itu pula Pak Hamid berangkat langsung ke rumahnya yang terletak di atas gunung. Betapa kaget Pak Hamid karena kondisi desanya tidak mengalami perubahan sama sekali. Jalan berbukit belum beraspal dan sangat becek bercampur tanah karena baru saja turun hujan. Pak Hamid terus melangkah, yang dipikirkannya hanya kondisi bapaknya yang sedang kritis.

Dua jam menuju puncak gunung, rumah renta beralas tanah keras, terpampang di hadapan wajah Pak Hamid yang tampak kelelahan. Kursi-kursi tampak berjejer di pelataran halaman dan tampak bapak-bapak sedang berbincang dengan suara perlahan. Tidak ada firasat apapun hingga Pak Hamid melihat bendera putih terbuat dari kertas minyak, diikat di tiang lampu penerangan jalan yang ditancapkan di pojok kanan halaman rumah Pak Hamid.

"Mas, Bapak sudah tidak ada. Sejam yang lalu Bapak meninggal." Laksmi, adik bungsu Pak Hamid memeluk Pak Hamid sambil menangis sejadinya.
Pak Hamid terdiam, dia hanya bergumam seandainya saja tidak perlu memakan waktu dua jam menuju rumahku, pastilah aku dapat berjumpa dengan Bapak untuk terakhir kalinya.

"Jadi, Bapak tidak sempat menyaksikan orangtua..."
"Tidak, itulah sebab aku mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan kepadamu." Pak Hamid tersenyum kecil. "Aku mencoba meraih cita-citaku setinggi langit dan mengejar prestasi sebaik mungkin, tapi aku tidak dapat menjumpai orangtuaku untuk terakhir kalinya karena jalanan menuju rumahku yang rusak."
"Lalu apa kaitannya dengan etika profesi yang Bapak ajarkan?" Rohman bertanya serius.
"Rohman anakku...jika saja presiden kita memahami bahwa profesi yang diembannya membuat dia merasa bertanggungjawab akan kemajuan bangsa ini, jika para anggota Dewan perwakilan Rakyat yang mencap diri mereka sebagai wakil rakyat yang hanya mau melihat tidak hanya mendengar apa yang diteriakkan rakyat, jika semua orang menghargai serta menjalankan setiap profesi yang mereka sudah raih, maka tidak perlu ada lagi kisah seperti yang saya alami saat itu."
"Bapak berkata seperti itu karena Bapak menghalami hal yang tidak mengenakan Bapak bukan? Bisa jadi dalam hal ini Bapak berbicara dengan ego tersimpan?"
"Tidak anakku! Pernahkah kau mendengar janji-janji para pemimpin kita sebelum mereka duduk di kursi jabatan mereka saat ini?Kepada siapa sebenarnya mereka berjanji?"
"Kepada rakyat tentunya?"
"Rakyat yang mana? tujuh belas tahun aku meninggalkan rumah, aku berpikir sudah ada perbaikan kondisi desa tempatku tinggal. Saat akan diselenggarakan pemilihan umum, seluruh masyarakat di desaku di boyong ke kota sekedar untuk menyaksikan salah satu kandidat calon pemimpin itu berkhotbah dan menebar janji-janji palsu dengan mengatakan akan membangun jalan yang mempermudah akses masyarakat ke desa. Semuanya palsu!" Wajah Pak Hamid berubah menahan amarah.
"Lalu apa yang telah Bapak lakukan untuk desa Bapak setelah kejadian tersebut?"

Pak Hamid masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa album foto yang berisi foto masyarakat sedang bergotong-royong membangun sesuatu yang kemudian diketahui mereka sedang membangun jalan desa.

"Rohman anakku, kamu pernah membaca buku ini?" Pak Hamid menyodorkan sebuah buku yang Rohman sangat mengetahui bahwa ringkasan buku itulah yang Rohman baca artikelnya di internet dengan tambahan berita bahwa buku tersebut sudah terjual ribuan eksemplar.
"Wah, saya sangat tahu buku ini. Buku yang Bapak buat dan saya sudah cari ke banyak toko buku termasuk toko buku terkenal di ibukota, semua bilang buku ini sudah habis terjual. Bahkan sudah tujuh kali cetak ulang..."
"Hahahaha...tau banyak rupanya kamu tentang tulisan aku? Tapi kamu pasti tidak tahu..."
"Apa yang saya tidak tahu Pak?"
"Seluruh royalti yang aku dapatkan dari menulis buku itu semua sudah lenyap."
Rohman bingung, "Wah, royalti ratusan juta Bapak gunakan buat apa memangnya?Kenapa rumah Bapak kecil seperti itu?" Rohman terdiam setelah menyadari apa yang telah dia katakan mungkin saja menyakiti perasaan Pak Hamid.
"Hahaha..." Pak Hamid malah tertawa terbahak-bahak. "Rohman, lihat itu foto besar yang aku pajang di depan rumah!" sambil menunjuk sebuah foto bergambar jalan yang mampu dilalui dua mobil berukuran sedang dengan anak kecil sedang bermain di sekitarnya.
"Royaltiku sudah aku sulap menjadi itu Rohman, hahaha..."

Rohman langsung beranjak dari pos ronda dan mendekati foto berukuran besar hampir setinggi bahunya yang terpampang megah di depan rumah Pak Hamid. Rohman menatap tajam kemudian tanpa disadari mengalir deras air mata di pipi. Rohman menyadari sepenuhnya bahwa dia sangat salah selama ini menanggapi perkataan keras dari Pak Hamid. Tentang gelar Doktor yang ia miliki, tentang rumah sederhana yang ia tempati, tentang istri mudanya yang cantik dan putra-putrinya yang cerdas dan ceria, tentang pemaknaan sebuah profesi dan tentang...kehidupan.

"SEKARANG SEMUA ANAK PERANTAUAN SEPERTI SAYA SUDAH TIDAK RAGU LAGI MENGUNJUNGI ORANG TUA MEREKA DI DESA, ROHMAN...SEKARANG ANAK-ANAK-KU DI DESA SUDAH BERSEKOLAH DAN MEREKA SEMUA CERDAS-CERDAS...SEKARANG PEMUDA-PEMUDA DESA BANYAK YANG MENJADI ORANG SUKSES DI KOTA DAN BERSAMA MEMBANGUN DESA!"

"APA LAGI YANG BAPAK TAHU TENTANG KEHIDUPAN? CERITAKAN KEPADA SAYA PAK?" Rohman berseru dari depan rumah Pak Hamid.


"HIDUP ITU BUKAN SEKEDAR UNTUK HIDUP, TAPI HIDUPLAH UNTUK MEMBERI MAKNA KEHIDUPAN  BAGI MANUSIA-MANUSIA LAIN DI MUKA BUMI INI ROHMAN...HAHAHAHA..."

KAMU BENAR-BENAR SAKIT JIWA PAK....! Rohman berteriak dalam hati sambil tersenyum lebar.
















Rabu, 23 Maret 2011

Dibalik N.A.N.A.R *6


Lama tak ubah
Mata yang menatap sama
Hidup yang hitam putih
Hati yang menjadi banal
Fikiran yang tak teralirkan, darah segar...


Diorama 6 : Adagium sebuah "Tujuan"

"Apakah kau merasa bersalah ketika memukul seekor nyamuk hingga mati, padahal ia menghisap darahmu hanya untuk sekedar bertahan hidup?"
"Kau menyamakan manusia dengan seekor nyamuk?"
"Iya, apa bedanya?Toh mereka sama-sama menyusahkan mahluk lain."

Rohman termenung sesaat menyaksikan cuplikan sebuah film pendek karya seorang anak SMA. Manusia yang disamakan dengan nyamuk yang tiada beda turut menyusahkan mahluk lainnya. Tiada beda karena nyamuk menghisap darah hanya untuk bertahan hidup. Sebenarnya apa yang menjadi motivasi hidupmu ketika esok Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menikmati indah segala Maha Karya-NYA?

Rohman yang seorang "abdi negara" dahulu orang bilang, semakin merasa terpojok atas segala tuduhan penyesalan yang dilakukan oleh sisi bathin dirinya. Mengapa harus berjalan di track ini, mengapa bukan di jalur yang lain? Mengapa tidak menjadi artis yang atas segala kepura-puraannya kemudian produser mau membayar mahal? Mengapa tidak menjadi pedagang handphone atau laptop atau apalah yang sangat diminati jiwa-jiwa konsumerisme yang memiskinkan negeri?  Mengapa tidak menjadi wakil rakyat yang memang dibayar mahal atas klaim dirinya menyuarakan kaum-kaum minoritas yang akhirnya terhempas oleh kebijakan pimpinan partai yang oportunis? Mengapa bukan ini tetapi itu? dan mengapa-mengapa lainnya yang tidak pernah akan terjawab.

Manusia bertanggungjawab atas segala tindakan dan ucapan yang dia perbuat. Atas segala perih yang ditorehkan pada setiap kata yang keluar dari rongga-rongga mulut dan bersumber dari dengkinya hati. Atas segala tindakan yang meskipun tiada niat kita bersinggungan dengan orang lain tapi indera penglihatan yang kemudian tersalurkan ke otak, berkata sebaliknya. 

***

Rohman keluar rumah dan berjalan mendekati gerobak penjual gorengan yang biasa mangkal di pojokkan gang rumah. Mas Aswan nama pedagang gorengan itu. Badannya subur berkulit hitam legam dengan rambut sebahu. Jika bicara langsung bisa kita menebak bahwa dia berasal dari Jawa Tengah atau lebih tepatnya Kebumen.


"Bang Rohman bagaimana kabarnya? Sudah lama tidak beli gorengan saya yang paling murah dan paling uenak?" Mas Aswan menyapa Rohman sambil tetap menggoreng dan sesekali menghapus bulir-bulir keringat dengan handuk kecil yang disampirkan di bahu.


"Oh, iya Mas kebetulan saya sudah kerja dan pulang sudah larut jadi jarang keluar rumah. Mas Aswan apa kabarnya?" Rohman membalas dengan senyum.

"Saya dengar Bang Rohman sudah jadi pejabat sekarang ya? Apa kerja di Pemda ya? Wah, alhamdulillah kalo begitu, tapi pesan saya jangan lupa dengan kaum alit seperti saya Mas?"

"Ah, bisa saja Mas Aswan ini. Saya hanya pegawai biasa saja dan itupun bukan di kantor Pemda. Insya Allah saya selalu komitmen untuk tidak menghindari atau mungkin malah tidak peduli dengan kaum alit. Tapi sekali lagi mas, saya hanya pegawai biasa." Rohman mencomot cireng kemudian memakannya sambil berdiri.


"Kemarin saya dikejar-kejar trantib Bang." Mata Mas Aswan masih tertuju penggorengan.


"Oh iya? Terus dagangan Mas Aswan bagaimana?"


"Ya diambil, ini saya buat gerobak baru harus ngutang di koperasi. Padahal gerobak yang kemarin juga belum lunas cicilannya." tetap menunduk.


Rohman terdiam, mencoba mencuri makna tersirat yang ingin disampaikan Mas Aswan. Dia merasa saat ini Mas Aswan coba mencurahkan isi hati kepadanya. Pekerjaan Rohman sebagai katakanlah Pemerintah, tidak kemudian memiliki tugas dan fungsi di bidang penertiban kota seperti yang dimaksudkan Mas Aswan. Tapi Rohman tau dia tidak akan sekedar menjawab maaf Mas, saya tidak bertugas di bagian penertiban atau sekedar menjawab Oh begitu ya Mas? Mungkin lain kali Mas Aswan bisa mencari tempat berdagang yang lain, nanti kalo berdagang di tempat yang sama bisa ditertibkan lagi? Ini benar-benar bukan tipikal Rohman sama sekali.


"Kira-kira, apa yang bisa saya bantu nih Mas Aswan?" sambil mengambil pisang goreng sebagai cemilan kedua.


"Yah gimana ya Bang? Sudahlah, ini namanya roda kehidupan yang harus dijalani. Termasuk...harus diambil sumber mata pencaharian satu-satunya oleh para robot itu." sedikit memberi tekanan pada kata "robot".


"Robot ya Mas?hehe..." Rohman tersenyum kecil.


"Mas Aswan harus jadi orang besar suatu saat!" kedua bola mata yang dari tadi tertunduk sekarang menghujam tajam ke kedua mata Rohman.


Rohman menghentikan aktifitas mengunyah gorengan sesaat.


"Iya, orang besar! Coba lihat lingkungan di sekeliling Bang Rohman? Pemuda pengangguran yang kecanduan narkoba, anak-anak kecil yang sudah jam tujuh malam seperti ini masih keluyuran dan orang tua di sini? Lihat itu di Pos RW, bapak-bapak malah asyik bermain gaplek dan ibu-ibunya tertawa terbahak-bahak bergosip dengan tema yang itu-itu saja." menghentikan aktifitas menggorengnya sementara.


"Iya memang ini kan kondisi lingkungan kita dari dulu Mas?" Rohman menggaruk-garuk yang tidak gatal.


"Tidak separah sekarang. Tiap hari terdengar suara sirine mobil polisi yang menangkap anak-anak muda seumuran Bang Rohman yang tertangkap sedang berpesta narkoba. Tapi saya lihat Bang Rohman, lahir dan besar di sini, tapi saya sudah bisa menebak dari Bang Rohman kecil."


"Menebak apa? Ada-ada aja nih Mas Aswan."


"Bang Rohman akan jadi orang yang sukses suatu saat. Sejak kecil Bang Rohman tidak pernah keluyuran selepas maghrib, bahkan hingga lulus SMA. Bang Rohman punya tujuan hidup tidak seperti yang lain."


"Tujuan hidup? Hah...yang bener nih Mas Aswan. Sekarang kalo saya tanya, tujuan hidup Mas Aswan apa ya?" mencoba menantang.


"Sederhana saja, saya SD tidak lulus. Tapi saya punya anak, si Putri akan saya sekolahkan setinggi langit. Sarjana mungkin target utama pendidikan si Putri buat saya."  Mas Aswan melanjutkan menggoreng dengan sesekali mengangkat gorengan yang sudah matang dan memisahkan di gerobak.


"Setelah Putri jadi sarjana, mau gimana lagi?"


"Minimal saat saya mati dengan keluarga saya mengelilingi saya maka akan saya sampaikan kepada malaikat penyabut nyawa, bahwa saya telah melakukan hal yang lebih baik dari hari saya yang lalu. Ditambah satu bonus, seorang sarjana mendampingiku pergi ke alam baka." tanpa ekspresi, tetap menggoreng dengan irama yang sama.


Rohman tercegat. Seorang tukang gorengan bicara kemanusiaan lebih fasih daripada para pejabat yang selalu mengatasnamakan kemanusiaan kemudian tampil di depan publik bak pahlawan kesiangan.


"Menurut Bang Rohman, mengapa saya bercerita tentang pengalaman gerobak saya diambil oleh trantib?"


"Mas Aswan pikir saya bisa bantu Mas Aswan karena saya sudah bekerja di pemerintahan?" jawaban otomatis keluar dari mulut Rohman.


Mas Aswan tersenyum kecil.


"Trantib tadi, betul telah mencoba merenggut rezeki Allah SWT yang sedang saya usahakan di muka bumi. Tapi trantib tadi tidak bisa merenggut cita-cita dan tujuan hidupku di muka bumi ini pula. Terlau picik dan kolot aku menyalahkan trantib yang mengambil gerobak kemudian aku frustasi dan menyalahkan Tuhan kelak. Hancur cita-citaku, hancur tujuan hidupku, tinggal aku menggigit jari hingga tua menggerogoti jiwa dan ragaku."


"Hmmm..." speechless.


"Bang Rohman ingat ini, hidup adalah tentang kontrak Tuhan dengan hamba-Nya yang diberikan kesempatan untuk hidup. Sedangkan kehidupan, adalah kontrak manusia dengan dirinya sendiri yang harus dicapai di ujung waktu hidup yang telah diberikan oleh Tuhan. Kita lahir dengan jerit tangis menggema seisi ruang bumi, kita tidak bisa mati dengan keadaan yang serupa. Karena kematian adalah saat kita telah menunaikan apa yang kita cita-citakan terhadap diri kita sendiri."


Rohman masih speechless dan sedikit bergumam.


"Bagaimana Bang Rohman, siap menjadi orang besar?" tantang Mas Aswan.


"Mungkin saya kurang siap Mas Aswan."


"Loh kenapa?" sedikit kecewa. "Memang apa cita-cita Bang Rohman setelah Allah SWT memberikan Bang Rohman kesempatan berkarier di dunia kepemerintahan?"


"Cita-cita saya...Saya tidak ingin petugas trantib mengambil gerobak kehidupan Mas Aswan lagi dan gerobak-gerobak kehidupan manusia lainnya. Ini tiga ribu, saya tadi makan cireng, pisang goreng dan tempe goreng." 


Saat Rohman hendak meninggalkan gerobak Mas Aswan, tangan Rohman ditarik dan telapak tangannya diselipkan uang yang tadi sudah ia berikan.


"Tidak ada bayaran buat calon orang besar." seloroh Mas Aswan.


Rohman meletakkan uangnya kembali di ujung gerobak gorengan mas Aswan.


"Maaf Mas, saya bukan petugas trantib." Rohman berlalu.


"HAH...!" Mas Aswan menggeleng-gelengkan kepala.




Sabtu, 26 Februari 2011

Dibalik N.A.N.A.R *5




Dear My Client...
Dalam segenap keraguan yang tersibak di hati
Ingin kudengar segala yang kau risaukan
Segala yang kau suka dan kau benci tentang diriku
Segala yang kau harapakan tentang sebuah idealisme
Karena di sini aku mengabdi untukmu

Diorama 5 : My Client

Apa yang baik tak selamanya dianggap baik, begitupun dengan apa yang dianggap buruk. Roda dunia tak pernah henti berputar dan selama itu pula laju pemikiran ummat manusia yang katanya paling mulia di antara mahluk lain yang mulia. Tak perlu ada pergeseran paradigma tentang segala hal yang buruk karena keyakinan hanya satu, bukan kewajiban kita menggeser-geser makna tapi minimal, pencarian terhadap sebuah makna adalah kewajiban tiap pribadi.

Telpon di seberang berdering dan tak ada satupun yang mengangkat termasuk Rohman yang tampak sibuk mengerjakan tugas di depan layar monitor komputer. Dari kejauhan seorang lelaki tua berjalan menghampiri kemudian mengangkat gagang telepon. Di ruangan ini bukan masalah penting siapa yang menelpon akan tetapi dapat dipastikan yang mengangkat gagang telepon tiap telepon berdering adalah "strata" terendah di ruangan. Separah itu pola pemaknaan sebuah jabatan semu di muka bumi. Hingga mengangkat gagang telepon menjadi dianggap sangat prinsipil untuk menunjukkan satu hal lebih memiliki derajat dibandingkan hal lain. Pak Ali kebetulan memiliki strata yang sebagian orang menganggap sebagai strata terendah di ruangan ini, dia seorang pramubakti.

"Assalamualaikum selamat siang dengan bagian hukum ada yang bisa dibantu?" Pak Ali memulai percakapan.
Terdengar suara bising menjawab pertanyaan Pak Ali.

"Baik, dari mana ini Pak?" masih tetap Pak Ali berdiri di depan telepon sambil mendengarkan dengan seksama.

"Baik, mohon tunggu sebentar." sebelah tangan Pak Ali menutup sebagian gagang telepon. 

"Maaf, Pak Rohman ini ada telepon dari Pak Sofyan katanya teman Bapak."

"Oh iya maaf Pak Ali tadi saya sedang mengerjakan tugas jadi nggak sempat mengangkat telepon, terima kasih ya Pak Ali." Rohman mengambil alih gagang telepon.

"Assalamualaikum Bro apa kabar?" Rohman memulai percakapan.

"Bang Rohman sehat?" suara Sofyan di seberang. 

"Alhamdulillah sehat, ada yang bisa aku bantu Bro?"

"Wah formil banget Bang Rohman ini, sudah sangat cocok jadi seorang birokrat hahaha..."

"Yah kita memang sebagai seorang pelayan harus seperti ini, Bro Sofyan juga  aku anggap sebagai client yang harus dilayani."

"Jangan begitu lah Bang, aku juga sudah sering merepotkan Bang Rohman. Oiya, sebenarnya aku menelpon Abang ada perlu sedikit jika tidak berkeberatan?" tampak serius.

"Oh begitu, kiranya sangat penting sampai menelpon aku di kantor?"

"Bagi aku ini bukan masalah pribadi tapi memang nampaknya saya butuh konsultasi dengan Bang Rohman. Apa malam ini Bang Rohman ada waktu? Arabian Cafe malam ini jam 8 mungkin ,kita bisa bertemu di sana Bang?" suara Sofyan terdengar ragu.

 "Tidak ada masalah, jam 8 malam di Arabian Cafe." Rohman mantab menjawab.

"Oke kalo begitu jam 8 malam kita bertemu di cafe, sebelumnya aku mohon maaf sekali lagi sudah merepotkan Bang Rohman, assalamualaikum." suara yang kembali bersemangat.

"Waalaikumsalam." gagang telepon ditaruh kembali ke tempat semula.
Arabian Cafe

Suasana cafe sangat hingar, cafe ini terdiri dari 7 lantai dan tidak hanya sebatas untuk tempat pertemuan tapi cafe ini juga menyediakan fasilitas spa, sauna, whirlpool hangat dan dingin, terapi kesehatan dan juga fitness centre. Pun malam ini sedang ada pertunjukkan sexy dancer dimana para penari modern wanita dengan lihainya melenggak-lenggokkan badan di depan para tamu yang datang. Bapak tua yang duduk di pojok ruangan asyik memainkan jemarinya pada tubuh sexy dancer yang sedang dipangkunya. Tak terlihat canggung, malu menjadi barang langka, bahkan terlihat di sisi lain sexy dancer sudah menanggalkan pakaian bagian atas tubuhnya dan asyik bermanja dengan dua orang tamu laki-laki yang menghimpitnya.

Rohman memesan secangkir hot chocochino sambil menanti kehadiran Sofyan. Selang beberapa waktu pelayan sexy mengantarkan pesanan, ada yang menepuk bahu Rohman dari belakang.

"Bang Rohman!" 

"Oh, Brother Sofyan apa kabar?" keduanya berpelukan layaknya sahabat tak berjumpa dalam waktu lama.

"Bang, aku sudah pesankan room di atas untuk sekedar melepas lelah sambil nanti teman aku menemani Abang. Sekarang kita berendam air hangat dulu ya Bang, sambil kita ngobrol." Sofyan menarik tangan Rohman.

"Ini aku baru pesan minum?" Rohman bingung.

"Sudah gampang itu Bang." Sofyan berbisik dengan waitress kemudian dengan sigap mengangkat pesanan Rohman.

"Mari Bang Rohman aku antarkan sekalian ke bawah." senyum waitress mengembang.

Rohman menuruni anak tangga mengikuti langkah Sofyan kemudian menuju ruang loker tempat penyimpanan barang dan tak seberapa lama mereka berdua-pun berendam di whirlpool hangat. Ini memang salah satu hiburan favourite bagi warga ibu kota setelah seharian lelah bekerja. Sedikit melupakan gerak waktu yang tidak bisa terhenti, sejenak enggan mengingat penatnya pikiran akibat menumpuknya tanggung jawab. 

"Bang, terima kasih ya sudah mau menemui aku di sini." Sofyan membuka pembicaraan.

"Yah, biasa saja lah Bro, lagipula sudah hampir sekitar setengah tahun pertemuan terakhir kita di Salemba dengan kawan yang lain." sambil menikmati hot chocochino.

"Kita sambil santai saja ya Bang? Aku juga sudah menyediakan room di atas." 

"Room untuk apa ya?" Rohman mengernyitkan dahi.

"Iyalah Bang untuk sekedar relax. Tadi sudah aku pesankan terapist terbaik di sini, aku tahu tugas Abang sangat berat dan pastinya Abang sangat lelah setelah seharian bekerja.” Sofyan menyulut sebatang rokok.

“Iya, tapi sebenarnya ini ada apa Bro? Aku sih terima kasih, tapi maksud semuanya apa?Aku diundang ke sini lalu tiba-tiba seperti ini?” Rohman masih tetap bingung.

“Begini Bang...” Sofyan mendekat ingin memberikan sebuah rahasia.

“Alamak...minggu lalu Bawor menemui aku sambil merengek curhat tentang wanitanya yang memutuskan hubungan dengannya karena Bawor tidak mampu menepati janji. Hari ini aku dijamu layaknya raja ternyata inti ceritanya sama saja. Wanita mana di dunia ini yang bisa membuat sahabat-sahabat ku tidak lagi merengek seperti anak kecil? Hashhh...” Rohman berdiri dan keluar dari kolam.

“Bang jangan pergi dulu lah, pokoknya aku sudah pesan terapist buat Abang jadi Abang harus mau menerima jamuanku terlebih dahulu!” Sofyan sedikit memaksa.

Rohman tidak bisa menolak karena posisinya sekarang yang sudah terlanjur menerima undangan Sofyan. Selesai membersihkan badan, Rohman langsung diantar menuju lantai 5 gedung. Cahaya lampu redup berwarna biru tua menyelimuti seisi ruangan, tata letak ruang yang dibuat seindah mungkin untuk membuat nyaman tamu yang hadir serta udara dingin karena AC menjadi satu paket komplit yang disajikan. 

Keluar dari elevator, tiba-tiba seorang wanita remaja berusia sekitar 18-20 tahun menyambut Rohman dengan senyum manis. Wanita dengan wajah oriental, rambut di hi-lite sebahu dan pakaian yang serba minim mulai dari tanktop hingga celana jeans ketat jauh di atas paha membuat Rohman berfikir, pesan apa yang hendak disampaikan oleh Sofyan. Sesaat kemudian, wanita remaja tadi mempersilakan Rohman masuk ke dalam sebuah ruangan kemudian dia pun masuk dan menutup pintu.

Siapa Sofyan?
Hampir 5 tahun Rohman mengenal Sofyan, bahkan dulu Rohman sempat ditampung di kosan Sofyan saat tidak ada lagi selembar uang di saku Rohman untuk membayar uang kosan. Sofyan anak muda yang tegas, bentuk tubuh layaknya atlet gulat pada umumnya, agak pendek namun kekar dan berotot. Saat kuliah dulu, Sofyan sama seperti Bawor, berada pada baris terdepan setiap aksi menolak kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat kecil, rakyat tertindas.

Keluarga Sofyan pernah mengalami masa pahit karena ayahnya dicurangi oleh kawan bisnisnya. Sekitar tahun 1998 kita pasti pernah mendengar merk dagang sebuah produk mi instant pertama dengan ciri khas Islami dan berani mengatakan produknya halal untuk dikonsumsi. Ayahanda Sofyan berada di balik nama produk tersebut beserta salah seorang kawan lama yang akhirnya bergabung untuk menjalankan bisnis tersebut. Dua tahun produk tersebut dikeluarkan, namanya sudah dikenal di hampir seluruh tanah air dan tidak ragu orang mengkonsumsinya. Rohman sendiri mengakui, Ibunya yang seorang guru ngaji selalu menggunakan produk tersebut untuk keluarganya karena jaminan halal yang diberikan. 

Bisnis sedang sangat baik, kawan bisnis ayahanda Sofyan membelot dan ingin menguasai merk dagang produk tersebut dengan membuat skenario yang menjatuhkan. Ayahanda Sofyan dinyatakan tidak berhak atas royalti merk dagang tersebut dan akhirnya dilempar dari kegiatan bisnis sehingga kondisi perekonomian keluarga menjadi ambruk seketika. Sofyan sempat tidak melanjutkan sekolah akibat musibah tersebut. Namun tiada kata menyerah bagi Sofyan beserta keluarganya. Empat tahun berselang, kondisi perekonomian keluarganya jauh membaik karena produk baru yang diciptakan oleh ayahanda Sofyan. 

Suatu hari Rohman pernah bertanya...
Ayah kamu membuat produk apa lagi sehingga perekonomian keluargamu membaik?

Apa ya? Yang pasti, ini hampir selalu digunakan oleh setiap keluarga di negeri ini. Bisnis ayahku bisa saja membuatku tidak perlu lagi bekerja seumur hidup. Tapi itu bukan sifat asliku yang hanya berpangku tangan mengharap kasihan orang tua.

Sofyan memiliki karakteristik yang kuat, tidak pernah sekalipun sebuah perusahaan menolak ketika dia melamar menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Gaya bicara yang lugas dan mampu menarik pihak lain, luasnya pergaulan yang berdampak pada luasnya koneksi kerja, kemampuannya menghibur client adalah yang membuat ia bertahan hidup sendiri di ibu kota tanpa seorangpun sanak saudara.

Sofyan bukan tipikal penjilat, ibarat aliran listrik maka Sofyan adalah air yang siap menghantarkan ke segala arah dimanapun air tersebut mengalir.

X X X

Satu setengah jam berlalu, Rohman keluar dengan wajah memerah akibat menyimpan amarah. Ditariknya kerah baju Rohman yang sedang duduk di depan bartender seraya akan menghantam keras wajah Sofyan.

“Apa maksudmu dengan semua ini?” Rohman siap menghajar namun dipisahkan oleh bartender walaupun Sofyan sendiri tidak merasa gentar sedikitpun.

“Kamu pikir aku pria hidung belang seperti yang lain?”

“Bang, sini duduk dulu kita bicara.” 

“Tidak perlu!” Rohman masih berdiri, namun Sofyan tetap asyik menikmati batang terakhir rokok yang dia punya.

“Mengapa Abang marah? Mei Lin adalah korban trafficking yang nyata.

“Lalu apa urusanmu? Kamu naksir dengan dia?Ingin memiliki dia” Rohman bertanya pelan.

“Tak penting apa yang aku mau Bang, Mei Lin dijual pamannya ke sini akibat utang yang harus dibayar orang tuanya di daerah sana. Abang lihat siapa yang duduk di belakang Disc Jokey di sana?” sambil menunjuk seorang pria tegak dengan rambut cepak yang asyik mengobrol dengan pemilik cafe.

“Aku mengundang Abang untuk menyaksikan, betapa generasi penerus bangsa ini akan dihancurkan oleh para pemimpinnya sendiri. TERMASUK BANG ROHMAN! Abang selalu memanggil aku “Si Air mengalir”, maka air ini menyampaikan pesan singkat Mei Lin yang hatinya menjerit karena harus bekerja sebagai wanita penghibur. Lalu pria yang aku tunjuk di sana, pria itu yang melindungi bisnis bejat penjualan generasi muda yang kita miliki untuk dijual kepada para pria hidung belang.”

Rohman lemas dan duduk di samping Sofyan kemudian memesan air soda dingin. Mukanya tertunduk lesu dan bingun akan berkata apa.

“Sofyan Si Air mengalir, aku terima pesan singkatmu dari Mei Lin di dalam tadi. Dia menangis mencoba menceritakan penderitaannya yang dia sendiri tidak tahu mengapa harus menanggung semuanya.”

“Aku meminta Mei Lin menceritakan semuanya ke Abang. Dia ingin kabur dari tempat ini tapi adiknya masih tinggal bersama pamannya. Dia sangat takut adiknya juga akan dijual sama seperti dirinya makannya dia selalu mengurungkan niatnya.”

“Apa yang bisa aku perbuat Sofyan? Aku hanya pegawai rendahan yang tidak memiliki kekuatan untuk menumpas kejahatan nyata seperti ini?”

“Bang, kenapa jadi lembek seperti kotoran manusia? Mana Abangku yang dulu tampil sangat jantan di hadapan ratusan mahasiswa yang ingin berunjuk rasa? Mana Abangku yang menggebrak meja rektor akibat kebijakannya yang menyulitkan mahasiswa miskin dengan cita-cita tinggi ingin kuliah?” Sofyan menatap tajam.

“Aku sudah pernah bilang ke Bawor bahwa kita harus berkumpul lagi. Bukan sekedar kumpul tapi kita akan membicarakan hal-hal seperti ini. Kita yang menjalankan roda kehidupan negara ini kelak. Jangan sampai negara ini hancur sebelum kita mencoba untuk memperbaiki kondisinya. Tunggu aku Sofyan, tak akan aku diam dengan hal semacam ini.” Rohman menepuk bahu Sofyan.

“Aku tunggu kapanpun Abang mau bergerak. Aku selalu siap atas segala yang harus kita hadapi bersama. Abang tau kemana harus menghubungi aku.”

“Oke kalo begitu, larut sudah hari ini Sofyan. Besok aku harus beraktifitas lagi. Tunggu kabar baik dariku ya?”

“Siap Bang! Selalu siap! Orang-orang seperti Mei Lin adalah Client Abang sebenarnya.” Sofyan meyakinkan.

“Baik kalo begitu aku pulang dulu, tapi ingat...” jari telunjuk Rohman menunjuk ke hidung Sofyan.

“Ada apa Bang?” Sofyan bingung.

“Lain kali panggil aku Mas!”

Sofyan tertawa lebar “Siap Mas Rohman Sang Komandan!” memberi hormat.

 

Rabu, 09 Februari 2011

Dibalik N.A.N.A.R *4



Pliss jangan berhenti
Langkah masih beribu
Hutan masih berliku
Aral melintang masih menghadang
Pliss...pliss...jangan berhenti di sini



Diorama 4 : Mata yang Memandang


Apakah kita hanya memandang, setiap indah langit pagi yang menyambut? Apakah kita hanya memandang, setiap langkah semangat adik-adik kecil menuntut ilmu dengan seragam yang cerah? Apakah kita hanya memandang, setiap rekam jejak peristiwa yang disajikan media dalam setiap waktu jam berdenting? Mengapa kita tidak memberi makna terhadap itu semua? Bukan kah indera kita yang adalah anugerah dari Raja segala Raja tidaksebatas kedua bola mata yang membelalak saat menatap fatamorgana dunia?Di mana telinga, di mana hidung, lidah, kulit yang melekat pada jiwa-jiwa yang menjalankan kehidupan?


Di mana hati, yang membebaskan kita dari segala ancaman siksa neraka saat tetap menjaga dengan penuh pertimbangan? Di mana akal pikiran yang terus berkembang dengan hanya kau tatap tiap lembar jendela dunia yang tercecer sebagai tambang emas yang tak ternilai harganya? Mengapa kini kita hanya berlagak seperti hidup di dalam hutan belantara, merasa mampu berjalan sendiri, merasa cukup hidup untuk esok hari, merasa diri bukan bagian dari semesta?


Rohman duduk di atas sajadah panjang yang tersusun rapi di sebuah mesjid luas dan terkenal di ibu kota. Hari itu hari Kamis, langit mulai memerah dan suara manusia bertadarus terdengar merdu menggema tidak hanya di seputar mesjid bahkan sangat jauh hingga tadi Rohman berjalan kaki sekitar satu kilo menuju mesjid.


Rohman tidak tahu ada kebiasaan di mesjid tempatnya menanti sholat maghrib berjamaah saat itu memberikan makanan berbuka puasa sunnah Senen-Kamis gratis bagi setiap jamaah yang hadir. Ia hanya bingung menyaksikan beberapa marbot masjid sibuk membagikan nasi kotak dan segelas es buah segar kepada jamaah yang hadir namun sesekali hanya meletakkan setumpuk nasi kotak dan membiarkan jamaah mengambilnya sendiri sehingga berebut dan menimbulkan kegaduhan. Seorang Bapak berpakaian kurang rapi dengan dua kancing baju dibuka, rambut sebahu dan ikal tak terurus nampak sangat antusias mengambil nasi kotak tersebut. Satu kotak diambil kemudian dimasukkan ke dalam tas kosong, begitupun dengan kotak yang kedua. Kotak nasi ketiga baru dia perlihatkan untuk memberi tanda dia sudah mendapatkan nasi kotak untuk berbuka.


Sesaat kemudian datang tiga anak kecil berpakaian kurang layak duduk dan memasang muka melas berharap agar diberi nasi kotak. Marbot mesjid mendekat dan memberikan sekotak nasi, segelas es buah dan pisang satu buah.


"Kenapa hanya sekotak yang dikasih Bang?" Rohman bertanya kepada marbot.

"Anak-anak ini yang biasa di jalan setiap kita ada bagi-bagi makanan mereka juga pasti datang." Marbot menjawab sambil berlalu.


"Iya Bang jangan dimanjain ntar kebiasaan, di luar udah minta-minta di dalam mesjid minta-minta juga." Sahut Si Bapak yang tadi telah memasukkan dua kotak nasi ke dalam tas dan satu kotak untuk dimakan bersama.

"Tadi Bapak sudah mengambil dua kotak, sedangkan ketika ketiga anak kecil tadi datang mengapa tidak Bapak berikan saja dua kotak nasi yang ada di tas Bapak untuk kedua anak yang belum dapat?" Rohman sedikit terpancing emosi.

"Enak aja lo kata, ini kan buat anak sama bini gue di rumah. Udah lo ngga usah ngurusin orang lain! Masih bocah udah berani sama orang tua! Lagian juga tuh bocah-bocah kan juga belom tentu puasa?" Bapak tadi mencari alibi.


Jamaah yang lain merasa terganggu dan mulai salin berbisik satu sama lain.
"Bang udah ngga usah dipaksain, kalo si Bapak itu ngga bakal pernah ngalah." Bocah dengan baju bergambar film kartun anak menahan Rohman untuk tidak berdebat masalah nasi kotak.

"Tapi kita juga laper Bil, dari tadi pagi kita jualan koran bekas kan cuma kekumpul lima rebu." Bocah berkulit legam dan ingusan menentang kawannya.

"Iya Bil kan lo tau sendiri tuh Bapak juga tiap ada bagi-bagi makanan pasti dateng. Udah gitu dia kan kerjanya cuma minta-minta di depan gerbang masjid pura-pura udah sakit-sakitan. Mending kita ngga puasa tapi usaha jualan koran bekas." Bocah ketiga menimpali.


Rohman bingung, dia menyerahkan kotak nasi yang dia sudah pegang kemudian dia berbisik kepada ketiga bocah tadi. 
"Emang yang tadi lo bilang beneran? Itu Bapak cuma minta-minta aja kerjaannya tiap hari?"

"Ya iyalah Bang, lo ke sini aja tiap hari pasti juga ketemu dia di depan gerbang mesjid sambil duduk pura-pura sakit." Bocah berkulit legam semakin semangat menceritakan kejelekan si Bapak tamak.


Rohman mendatangi ruang tempat marbot mesjid berkumpul kemudian keluar salah satu marbot dan mendatangi Bapak yang tadi mengambil tiga kotak nasi. Terlihat si Bapak gusar dan mengeluarkan dua kotak nasi yang tadi sudah di simpan di dalam tas. Si Bapak keluar mesjid dengan wajah kesal dan menunjukkan kepalan tangan kepada ketiga bocah tadi dan Rohman tentunya.


Rohman mendekati ketiga bocah tadi dan disambut dengan tiga raut wajah yang berbeda.
Si Bocah legam langsung menyambut dengan senyuman, "Bang makasih ya, baru kali ini kita makan dapet nasi kotak masing-masing :)" Rohman ikut tersenyum kemudian bingung melihat raut wajah bingung bocah kedua.
"Lo kenapa jadi sedih sama bingung gitu?" tanya Rohman kepada bocah yang dari tadi dipanggil Bil.

"Bang lo sekarang emang bener nolongin kita, tapi lo ngga tau Bapak yang tadi ancem kita mau dipukulin kalo ketemu di luar mesjid." 

Sebelum Rohman menjawab, bocah ketiga menimpali pernyataan bocah kedua.
"Udah lo ngga usah pusing yang penting kita makan dulu. Lagian kita bertiga nah si Bapak yang tadi sendiri masa kita ngga berani?" Bocah yang satu ini selalu terlihat lebih tegas sejak awal.
"Jadi harusnya gimana dong?" Rohman bingung.

"Sebenernya Abang ga salah malah kita makasih banget udah dapet jatah nasi satu-satu, tapi lain kali komunikasi ke kita dulu Bang. Kita anak jalanan yang tau bahaya jalanan termasuk ancaman kaya tadi kita udah sering."

"Iya Bang udah ngga usah bingung, ini nasi kotak Abang tadi kan kita udah dapet dua kotak dari Bapak yang maruk itu." bocah legam menyerahkan kotak.


Tiga orang bocah yang tidak pernah tahu akan nasib dari persahabatan yang mereka jalani saat ini. Mereka tidak hanya memandang setiap sketsa hidup, tapi mereka tahu akan setiap kemungkinan bahaya yang dihadapi. Kelima indera bekerja dengan sempurna di alam liar sana. Alam yang bahkan tidak lebih jauh dari sebuah mesjid dengan gerbangnya, lebih menyeramkan dari hutan dengan segala binatang buasnya. Satu di antara mereka memiliki keyakinan atas sebuah pertahanan yang kokoh dari setiap bahaya yang akan menghampiri. Dari setiap keculasan orang dewasa serta ketamakan yang selalu ditunjukkan dengan mengatasnamakan sesuatu yang absurd. Rohman hanya bersikap sebagaimana semestinya tetapi dalam kasus ini dia berperan besar. 


Rohman menyadari dia tidak akan mengawal ketiga bocah tadi dalam melanjutkan kehidupan selanjutnya, bahkan ketika sholat maghrob berjamaah selesai diselenggarakan dan dia harus berpisah dengan ketiga bocah yang sudah diancam oleh Bapak yang tamak tadi. Tapi tindakan Rohman melaporkan Bapak yang telah berbuat culas kepada marbot, sudah cukup menjadikan ketiga bocah tadi bersatu menentang ketidak adilan yang selama ini mereka rasakan. Pun bocah ketiga bahkan meyakini Rohman agar tidak perlu khawatir terhadap keadaan mereka karena mereka merasa yakin, apabila mereka bersatu maka mereka akan mampu mengatasi segala macam bahaya yang akan menghadang.


Jangan menyerah, jangan menyesal, kita hanya perlu mencari orang dewasa yang bijak, yang mengantarkan kita kepada sebuah keyakinan.  Keyakinan akan kemampuan kita generasi muda melawan setiap keculasan dan ketamakan manusia yang telah memiskinkan dan menyengsarakan nasib jutaan rakyat di negeri ini. Jadikan pencarian itu sebagai tugas kita bersama.

Sabtu, 22 Januari 2011

Dibalik N.A.N.A.R *3




Semua menyalahkan zaman
Bencana alam
Puting beliung
Banjir dan tanah longsor
Gempa bumi
Gelombang tsunami
Semua menyalahkan Tuhan
Diorama 3 : Benang yang Kusut

Bangsa ini masih muda, namun kelakuan sudah seperti orang yang hidup ratusan tahun. Kemarin malam aku menangis sesenggukan menyaksikan sebuah film perjuangan di negeri tirai bambu sana. Sebuah negeri dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Tidak tanggung-tanggung, 2 Milliar lebih penduduk tercatat hidup di negeri Cina saat ini. Negeri penuh filosofi, negeri yang menjaga nila-nilai luhur nenek moyang, negeri yang menjadi sangat besar karena belajar dari kesalahan sejarah yang dilakukan. Paling utama adalah negeri yang saat ini dilanda krisis politik pemimpin yang katanya penuh kolusi tapi minimal...para pemimpin di sana masih mau mengurus negerinya dan bangkit melawan kekuatan dunia.

Saat itu tahun 1905, kekuatan tirani masih menguasai Cina dan Hongkong masih dikuasai oleh Inggris. Dr. Sun Yat Sen yang terkenal dalam sejarah Cina, akan berkunjung ke kota kecil yang berbatasan dengan Hongkong untuk menyebarkan pemahamannya tentang Nasionalisme.Ide ceritanya sederhana, Chen Shaobai seorang Pimpinan Redaksi sebuah surat kabar lokal adalah seorang nasionalis yang harus mempersiapkan kedatangan Dr.Sun ke kota tempat dia berada untuk menyebar strategi melaksanakan revolusi yang efektif bagi 13 Propinsi di Cina. Hal ini dilakukan karena kekuasaan tirani dari Kekaisaran Dinasti Qing sudah sangat menyengsarakan rakyat dan tidak dapat dibiarkan lagi. Permasalahannya adalah, para nasionalis harus siap mati oleh para pembunuh bayaran yang tidak diketahui jumlah dan bentuk serangannya karena membaur dengan masyarakat. Dr. Sun sendiri hanya butuh waktu 30 menit di kota tersebut untuk kemudian kembali pulang dengan menggunakan kapal yang dia tambatkan di pinggir dermaga.

Li Yutang adalah pengusaha surat kabar tempat Chen Shaobai bekerja dan juga penyokong dana utama kehadiran Dr. Sun ke kotanya. Li Yutang memiliki seorang anak yang cerdas bernama Li Chongguang yang juga seorang nasionalis dan aktif menyebarkan berita-berita penyengsaraan rakyat oleh Kaisar saat itu dan rakyat harus bersatu untuk melakukan revolusi demi perbaikan Cina ke depan. Li Yutang melarang putranya untuk berpartisipasi dalam acara menyambut Dr. Sun Yat Sen ke kotanya karena akan sangat berbahaya bahkan dapat mengakibatkan kematian namun Li Chongguang menolak dan memang di akhir cerita-Li Chongguang tewas ditikam dengan kayu penarik becak oleh seorang loyalis kaisar.

Semua cerita di atas sudah membuatku meneteskan air mata, namun ada satu adegan yang lebih membuatku merasa miris karena membandingkan dengan kondisi negaraku saat ini. A'si, seorang penarik becak yang sudah mengabdi kepada Li Yutang selama 10 tahun akhirnya ikut mati karena ingin menyelamatkan putra tunggal bosnya ketika akan dikejar oleh loyalis kaisar tadi. A'si Si Penarik Becak tercatat ke dalam salah satu tokoh sejarah pergerakan nasionalis di Cina. Aku bahkan tidak berpikir akan sejauh itu karena di negeriku ini, definisi pahlawan sering kali dipermainkan bahkan diperdebatkan. 

Negeri ini akan diruntuhkan oleh para pemimpinnya sendiri, oleh para tokoh yang katanya akan menyelamatkan bangsa ini dan membawanya kepada sebuah kesejahteraan. Aku hanya tertawa kecil ketika mengikuti sebuah rapat yang nampaknya membicarakan rencana bangsa ini ke depan namun ternyata berisi sebuah kisah klasik yang diulang secara terus-menerus tiap tahunnya. Mereka bilang perubahan dan perbaikan dilakukan setiap tahun untuk mencapai target-target pembangunan, aku bilang ini hanya permainan ular tangga yang dapat diulang-ulang kapan saja para pemain menginginkan.

Ingat kasus Tsunami di Aceh? Gempa di Jogja dan jawa Barat serta terakhir di Padang? Gunung Merapi meletus dan banjir di Wasior serta tanah longsor yang berulang-ulang terjadi? Apa kata mereka? 

Ini takdir Tuhan yang harus kita terima 
Seakan para pemimpin ini tidak sadar sedang ditegur pencipta-Nya kemudian masih ribut mengurus masalah kelanggengan jabatannya ke depan. 

Korupsi apalagi, seakan sebuah permainan monopoli yang di resize seluas satu negara karena semua bisa ikut bermain. Pion monopoli yang masuk ke dalam penjara, dapat saja keluar jika memenuhi salah atu syarat di antaranya:
1. Membayar denda sesuai kesepakatan
2. Keluar angka yang sama dalam satu kali kocokan sepasang dadu
3. Memiliki kartu "kesempatan" untuk keluar dari penjara dan bahkan mendapatkan uang jika kartu tersebut dijual ke bandar.

Apa bedanya dengan negara ini? Masyarakat semakin bosan karena permainannya hanya diiulang. Kebosanan masyarakat justru dimanfaatkan para pemimpin ini untuk beradu nominal korupsi. Korupsi yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak pejabat dari instansi pemerintah, serta paling lama disorot oleh media maka dialah pemenang "piala bergilir" korupsi di negeri ini.

Negeri ini kusut layaknya benang layangan. Aku terkadang harus bernapas panjang untuk sekedar melanjutkan hidup esok hari karena harus berkutat dengan kemacetan yang seakan tanpa solusi. Polusi udara yang keluar dari knalpot sepeda motor dan mobil bahkan bis-bis kota adalah santapanku tiap pagi walaupun aku sadari aku adalah salah satu penyumbang menu lezat itu. Pada dasarnya aku juga sering berdiskusi dengan beberapa sahabat tentang kondisi negeriku ini. Mencoba mencari solusi dan di share ke situs-situs pribadi atau pertemanan yang semakin menjamur dan pemanfaatannya kian hari kian melenceng.

Aku memang mengeluh saat ini tapi aku bersumpah akan memberikan solusi terhadap problem negara ini. Terutama untuk para koruptor yang memiskinkan bangsa, otak ini sudah panas untuk segera melaksanakan strategi "pemusnahan bahaya laten korupsi" di negara ini.

Sekali lagi teringat tentang perjuangan Cina merebut sebuah makna kemerdekaan, maka cita-cita ini biar ku pupuk sejak saat ini dan kurawat hingga tumbuh dan kusebar tiap benih yang sama kepada jiwa-jiwa muda yang gusar.

Gusar akan ketidakpastian.