Jumat, 07 Januari 2011

Dibalik N.A.N.A.R *1





Bulir-bulir
Dalam temaram
Terus Berdetak
Hingga Fajar Menjelang
Anak Kecil
Bermain Angka
Berharap Nanti
Mati Tak Sia


Diorama 1 : Dalam Dimensi

Mimpi ini sudah ditanam sejak kau perkenalkan aku akan semua takdir. Takdir yang kau bilang mengapa akhirnya kita bertemu dalam sebuah ruang aktifasi yang tak semua pihak memilih. Jodoh yang kau bilang saat aku kembali walau saat itu aku buta arah dan langkah yang aku tempuh sebatas rasa penasaran akan sebuah pola yang kita sepakati ini sebagai sebuah gerakan.

Terus terang aku tidak pernah tersesat sejak saat itu. Pun ketika wacana timbul di sekeliling, aku hanya akan menjadi penganut pragmatis semata tapi aku anggap mereka tidak mengenalku. Tidak semua paham akan langkah yang aku tempuh, tapi kamu sudah mengenalku sejak awal. Rasanya seperti cinta mati dan tak ingin berpisah karena sudah kurasakan dalam setiap aliran darah namun bukan dalam bentuk roman picisan.

Kamu pasti tertawa terbahak karena pasca jalur hidup yang akhirnya dianggap semacam pengkhultusan itu, akhirnya aku memilih jalan yang ini. Jalan yang dulu sama-sama kita caci dan maki dalam keseharian. Identitas kita dulu di kalangan robot-robot pribumi adalah sebagai pemberangus sebuah ke-ajegan yang komunal akhirnya sepakat diberi stempel dengan judul "birokrasi".

Hari itu belum saatnya aku mendapat gelar sarjana. Yang menurut doktrin dunia akan lebih mudah mencari hidup- atau minimal mempertahankan hidup. Roda-roda kereta terus berputar, melaju di atas rel yang akhirnya mendekati sebuah ruang penantian. Aku katakan "penantian" karena memang di sini ku titipkan sebuah mimpi yang berawal dari sebuah dendam karena harus kutinggalkan hati yang bersemi dan menyerah dengan apa yang mereka sebut...takdir.

"Aku...akan...taklukan kamu!"

Selamat Datang Kenyataan

Pertengahan 2008

Bapak Tua : "Gimana, masih kurang apa lagi sampe beres semua?" (mengendarai sepeda motor)
Aku : "Ini semua sudah beres, administrasi sudah selesai tinggal wisuda saja."
Bapak Tua : "Ya sudah, kamu jangan main-main dulu kalo sudah beres nanti Ibu juga sudah tenang"
Aku : "Kenapa nggak boleh main? Justru ini pulang mau senang-senang dulu."
Bapak Tua : "Heh gimana sih, cepet cari kerja nanti kelamaan main jadi males."
Aku : "Ada perubahan apa di sini?" mengalihkan perhatian.
Bapak Tua : "Lihat aja sendiri!"

Hening.


Ruangannya sepi, jam dinding menunjukkan Pukul sembilan lebih sepuluh menit. Di sini hal seperti itu sudah biasa, masuk kerja semampunya dan pulang sekehendaknya. Semua melawan garis-garis peraturan. Kita "special" dengan hanya kurang dari 10% dari keseluruhan mahluk yang ada di instansi ini. Kita kokoh karena kita oknum yang berjalan lurus dan kita memegang marka-marka. Tapi sebagian dari kita lupa akan takdir, bingung akan jati diri karena sudah lama tidak berkutat dengan kemahiran diri.

Aku hanya pion di sini, pion yang sadar ketika terus melaju dan menerjang hingga kotak terakhir pertahanan lawan maka aku akan berubah menjadi apa yang seharusnya terjadi.

Di sini...di tempat ini, adalah satu kompi dari berpuluh-puluh kompi pasukan yang menjadi sasaran amarah bagi setiap mereka yang berpandangan bahwa negara ini diam tak bergerak. Manusia-manusia di sini bingung akan apa yang mereka kerjakan sendiri, pusing akan ke depan yang tidak seharusnya dipikirkan. Khayalan adalah bumbu penyedap dalam setiap program yang dibuat dan memang sengaja diwujudkan dalam sebuah objek yang menarik agar mereka mau berbelas kasihan untuk memberi nafkah.

Kenapa aku di sini?Sederhana saja, ini memang sedikit berbeda dengan langkah yang ditempuh Fidel Castro saat dia sudah nyaman di kelas ekspatriat dan status yang tinggi diiringi daya intelegensi yang sangat mapan dan akhirnya kembali turun ke jalan. Bertemu dengan karib lama yang bernama Ernesto kemudian sekarang kita mengenalnya dengan sebutan singkat-"Che" dan mulai bergerilya mencari titik-titik makna kehidupan. Jikalau komunis mereka kibarkan, maka sang jagal bagi "Che" adalah satu-satunya saksi bahwa dalam komunis sekalipun jangan khawatir tentang agama yang kau pilih, karena ini adalah tentang hidup. Komunis mengatur, di lain sisi memberi udara kebebasan dalam memilih kekasih di lain dunia.

Beda dengan aku. Aku memulainya dari sini, di dalam dimensi yang mereka sebut kemunafikan. Aku memulainya di sini, jangan kau ragukan niatan ku yang lalu-lalu kawan.


To be Continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar